Sorcery Talks #12: Pahlawan Baru di Era Kecerdasan Buatan Mendorong Akselerasi AI Nasional
Dalam semangat memperingati Hari Pahlawan, komunitas Data Sorcerers kembali menghadirkan acara Sorcery Talks #12 dengan tema “Pahlawan Baru di Era Kecerdasan Buatan Mendorong Akselerasi AI Nasional”.
Kegiatan ini diadakan secara daring melalui Zoom Meeting pada Senin, 10 November 2025, pukul 20.00–21.30 WIB, dan diikuti oleh berbagai peserta dari kalangan mahasiswa, komunitas teknologi, hingga pemerhati kecerdasan buatan (AI) di Indonesia berkolaborasi dengan Trash Ranger Id, Youth Ranger Id,
Pembicara dan Moderator
Acara Sorcery Talks #12 menghadirkan empat sosok inspiratif yang aktif di bidang teknologi dan AI, yaitu:
Aurelius Ivan Wijaya – Co-Founder Artifisial
Dimas Dwi Pangestu – Founder Trash Ranger ID & CEO Youth Ranger ID
Fadli – Ketua Umum Permikomnas RI
Marchel Shevchenko – Founder Data Sorcerers (Moderator)
Keempat pembicara ini berbagi pandangan tentang bagaimana generasi muda dapat berperan sebagai “pahlawan digital” yang mendorong perkembangan ekosistem AI nasional melalui pendidikan, kolaborasi, dan inovasi teknologi.
AI dan Peran Anak Muda dalam Industri Masa Depan
Salah satu fokus utama diskusi adalah peran generasi muda sebagai motor penggerak industri berbasis kecerdasan buatan di Indonesia.
Aurelius Ivan Wijaya menegaskan pentingnya semangat belajar dan adaptasi terhadap perubahan zaman.
“Anak muda memiliki kesempatan yang sangat luas di era ini. Gunakan waktu sebaik mungkin untuk belajar dan terus mengikuti perkembangan zaman, karena kita yang akan menjadi kunci penggerak industri dalam lima hingga sepuluh tahun ke depan.” ujar Ivan.
Para pembicara sepakat bahwa kunci utama percepatan AI nasional terletak pada literasi digital, pengembangan talenta muda, serta kolaborasi antara komunitas, lembaga, dan pemerintah untuk membangun fondasi inovasi yang kuat dan berkelanjutan.
Fadli, Ketua Umum Permikomnas RI, turut menyoroti pentingnya kerja sama lintas bidang agar teknologi AI benar-benar membawa manfaat bagi kesejahteraan masyarakat, bukan hanya kepentingan industri besar.
Kepahlawanan Digital di Era Modern
Selain membahas pengembangan teknologi, sesi ini juga menyoroti konsep kepahlawanan digital sebagai bentuk kontribusi nyata anak muda terhadap bangsa.
Menurut Ivan, makna kepahlawanan kini tidak lagi terbatas pada perjuangan fisik, melainkan juga pada semangat berbagi dan memberdayakan orang lain.
“Pahlawan di masa sekarang bukan hanya mereka yang berjuang di medan perang, tetapi juga mereka yang punya niat baik, rela meluangkan waktu untuk berbagi pengetahuan, dan tidak takut untuk berbagi meski merasa belum sepenuhnya ahli.” jelas Ivan.
Sementara Dimas Dwi Pangestu juga menambahkan bahwa setiap anak muda bisa menjadi sosok yang berdampak, tanpa harus menunggu jabatan tinggi.
“Untuk menjadi anak muda yang berdampak, kita tidak perlu menunggu menjadi founder, CEO, atau pemimpin besar. Kita bisa mulai dari bidang masing-masing, asal punya pola pikir terbuka dan keberanian untuk berani mencoba hal baru” kata Dimas.
Sebagai penutup, Marchel Shevchenko, selaku Founder Data Sorcerers sekaligus moderator acara, menyampaikan bahwa edisi Sorcery Talks kali ini merupakan momen spesial yang disiapkan secara spontan untuk memperingati Hari Pahlawan.
“Acara ini sebenarnya diadakan cukup dadakan, tapi semangatnya luar biasa. Dengan fasilitas seadanya, kami tetap bisa menghadirkan diskusi penuh makna dan antusiasme dari para peserta” ujar Marchel sambil tertawa.
Ia menambahkan bahwa spontanitas ini justru mencerminkan semangat kepahlawanan digital yang bergerak cepat, berani mencoba, dan tetap berdampak meski dalam keterbatasan.
Melalui Sorcery Talks #12, diharapkan dapat menumbuhkan semangat kepahlawanan digital di kalangan generasi muda Indonesia.
Anak muda diharapkan tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga pencipta inovasi yang berdampak positif bagi masyarakat.
Dengan kolaborasi, keberanian, dan semangat belajar yang tinggi, generasi muda diyakini mampu membawa Indonesia menuju masa depan AI yang berdaulat dan inklusif.
Sampai jumpa di SoTa selanjutnya!